Bab 1093 Pedang Sain
Pakar itu tersenyum ketika mendengar kata-kata tersebut. Jari telunjuknya kembali terangkat saat ia berbicara dengan nada menantang. “Serang tepat di sini. Jangan menahan diri.”
Ambisi Noah semakin menguat. Seorang dewa berada tepat di depannya. Menghabisinya akan menjadi pencapaian terbesar yang pernah diraih oleh seorang kultivator heroik.
Dunia di sekitarnya lenyap saat fokusnya mencapai puncaknya. Noah hanya bisa melihat jari telunjuknya. Tidak ada hal lain yang penting lagi dalam pikirannya.
Sebuah bintik hitam muncul di dada sosoknya yang seperti hantu. Tanda itu membesar hingga berbentuk bintang yang menelan separuh tubuhnya dalam putarannya.
Noah mengerahkan seluruh individualitasnya untuk melakukan tebasan itu. Tidak masalah jika beberapa aspeknya tidak cocok dengan pedang. Dia ingin mencurahkan seluruh keberadaannya ke dalam serangan terkuatnya.
Sosoknya yang seperti hantu mulai berubah bentuk. Ekor dan dua sayap tumbuh dari punggungnya. Sepasang tanduk muncul dari dahinya, dan jari-jarinya menjadi cakar panjang.
Lingkungan menjadi gelap. Energi mental cokelat Noah meredup saat keberadaannya memasuki dunia gaib itu. Namun, sang ahli tetap diam, menunggu dia melancarkan serangan terakhirnya.
Noah akhirnya bertindak. Pedangnya terasa berat saat dia mengangkatnya di atas kepalanya dan memusatkan seluruh kekuatannya pada bilah pedang itu. Rasa hampa menyelimuti dirinya saat seluruh pikirannya tertuju pada senjata itu, tetapi Noah sudah berhenti berpikir.
Kemarahan adalah yang terakhir datang. Jari telunjuk hanyalah bagian kecil dari tubuh kehendak ilahi, tetapi kekuatannya melampaui apa pun yang pernah ditemui Nuh.
Dia merasa dipermalukan. Pakar itu percaya bahwa satu jari saja sudah cukup untuk membungkamnya, jadi dia harus membuktikan bahwa pakar itu salah.
Tentu saja, Noah tidak berpikir jernih dalam situasi itu. Tidak peduli seberapa kuat seorang kultivator heroik. Para dewa berada di alam lain, dan bahkan kemauan mereka terlalu kuat bagi para ahli lemah di alam bawah.
Namun, Noah menggunakan keinginannya yang tidak masuk akal untuk membunuh seorang dewa untuk mendorong kekuatannya lebih jauh lagi. Ambisinya menjadi begitu kuat di bawah konsentrasi itu sehingga membuat dinding mentalnya yang kokoh bergetar tak terkendali.
Noah tidak merasakan sakit apa pun, atau lebih tepatnya, dia tidak bisa merasakannya dalam situasi itu. Hanya jari telunjuk yang ada dalam pikirannya. Segala sesuatu yang lain berada di dalam pedang eteriknya.
Pedangnya akhirnya jatuh. Noah merasa seolah-olah ia sedang mencoba memotong material terkeras di dunia saat ia mengayunkan pedangnya ke bawah. Pedang itu begitu berat sehingga urat-urat menonjol muncul di tubuh fisiknya.
Keheningan sesaat terasa seperti keabadian. Pikiran Noah tetap kosong tanpa pikiran apa pun saat dia melakukan tebasan yang telah membawa seluruh hidupnya.
Pedang gaib itu menyentuh ujung jari, dan bilahnya kehilangan bobotnya saat kekuatannya keluar darinya. Kemampuan mental Noah kembali hanya untuk merasakan kekuatan dahsyat yang melemparkannya ke belakang dan membuatnya terbentur dinding yang bergetar.
Beberapa menit hening berlalu setelah sayatan dan jari itu mengenai sasaran. Noah terlalu bingung untuk memahami apa yang terjadi di sekitarnya, dan pikirannya yang gemetar menambah gelombang rasa sakit pada kondisinya.
Noah membutuhkan waktu untuk pulih dan kembali fokus pada sang ahli. Dia tidak melihat tebasan apa pun ketika melihat ke arahnya, tetapi sosok eksentriknya masih berdiri di atas lautan pikirannya.
Jari pria itu berada di depannya. Noah sama sekali tidak berhasil menggerakkannya, apalagi memotongnya. Namun, ia segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres karena ahli tersebut mengangkat alisnya.
Noah merasa lelah, bahkan tingkat kekuatan mentalnya pun telah mencapai kondisi kritis. Namun, ia menegakkan tubuhnya dan berjalan menuju ahli yang tak bergerak itu, yang tersenyum tipis melihat pemandangan tersebut.
Noah berjalan hingga matanya tepat berada di atas jari itu. Dia tidak melihat sesuatu yang aneh, tetapi dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Konsentrasinya meningkat lagi. Noah mengerahkan sisa energi mentalnya untuk memeriksa ujung jari. Hukum-hukum muncul dalam penglihatannya, dan struktur surat wasiat menjadi agak jelas pada saat itu.
Noah bahkan tidak bermimpi untuk memahami hukum ahli tersebut, tetapi dia dapat melihat bahwa sesuatu telah terjadi pada ujung jarinya. Strukturnya masih utuh, tetapi ada bagian kecil yang tampak rusak.
“Kupikir kau kurang murni karena jalan yang kau tempuh berbeda-beda,” akhirnya sang ahli memutuskan untuk berbicara. “Tapi ada sisi lain yang perlu dipertimbangkan. Apakah kau yakin tidak ingin hanya fokus pada pedang?”
“Aku sudah memutuskan itu sejak lama,” jawab Noah lemah. Kesadarannya mulai goyah di detik-detik terakhir itu. Energi mentalnya semakin menipis sehingga ia tak bisa lagi terjaga.
Sang ahli menghela napas sebelum melanjutkan ajarannya. “Jalan menuju kesucian mengarah pada penghapusan ketidaksempurnaan dan unsur-unsur asing. Namun, tidak ada yang berlebihan pada pedang yang mampu mencakup segalanya.”
Pikiran Noah meluas seiring pemahaman mengalir ke dalam dirinya. Kesadarannya hampir memudar, tetapi dia menggunakan semua yang dia bisa untuk menjaga agar hubungan dengan Divine Cut tetap utuh.
“Pedang ambisi adalah pedangmu,” kata sang ahli sambil suaranya menjadi teredam. “Daripada menghilangkan jalan, kau harus membawanya ke puncak dan menyatukannya menjadi satu pedang. Tidak mungkin ada eksistensi yang membawa banyak hukum, tetapi eksistensi dengan individualitas yang luas memang ada. Adapun tanpa batas, itu akan bergantung padamu.”
Noah mulai melihat dunia luar saat suara sang ahli bergema di benaknya yang pusing. Hari sudah siang ketika dia terbangun, tetapi dia segera pingsan di tempat.
Kata-kata terakhir dari sang ahli terngiang di dalam hatinya. “Kau layak menerima warisanku. Mulai sekarang, panggil aku sebagai Pendekar Pedang Suci.”
Kemudian, kesadaran Nuh menjadi gelap, dan tubuhnya tergelincir dari atap menara hingga jatuh ke tanah.
.
.
.
Noah terbangun di lingkungan yang gelap. Hukum elemen kegelapan sangat kuat di sana, tetapi dia bisa merasakan sesuatu yang familiar di dalamnya.
Seekor makhluk mirip burung beristirahat di sampingnya. Noah akhirnya bisa mengenali di mana dia berada ketika dia melihat Night berjongkok di sisinya.
Itulah lingkungan yang telah ia ciptakan untuk Pterodactyl. Makhluk itu pasti membawanya ke sana setelah ia jatuh dari menara.
Malam terbangun ketika melihat Tuannya telah pulih. Ia meregangkan tubuh sejenak sebelum berangkat dan melanjutkan misinya untuk mengubah daerah itu menjadi tempat berkembang biak.
Noah kemudian menyadari Snore melingkar di belakangnya dan Pedang Iblis di sisinya. Kedua aset hidupnya itu telah keluar dengan sendirinya untuk melindunginya saat dia masih tidak sadarkan diri.
Buku catatannya yang bertuliskan pesan-pesan tertentu menyimpan beberapa pesan batin. Sebagian besar menanyakan tentang kesehatannya, tetapi orang-orang terdekatnya tahu bahwa Noah sering melakukan latihan sembrono untuk meningkatkan kekuatannya.
Bahkan ada ringkasan tentang apa yang terjadi saat dia tidak sadarkan diri, tetapi tidak ada yang layak mendapat perhatiannya. Pada akhirnya, dia tidur selama lebih dari dua bulan. Tidak ada yang bisa mengganggu kedamaian dalam jangka waktu sesingkat itu.
Flying Demon bercanda tentang bagaimana Night menangkapnya di udara ketika dia jatuh dari menara, dan Dreaming Demon mendoakan yang terbaik untuk kesehatannya.
Hanya pesan June yang memaksanya untuk menjawab. Kata-katanya sekali lagi membuktikan betapa dekatnya mereka berdua, dan Noah tak kuasa menahan senyum saat mendengarnya.
“Apakah kau mendapatkan sesuatu yang baik?” Suara June bergema di benak Noah ketika ia memutar pesannya, dan ia hanya bisa menjawab dengan satu cara ketika ia mengingat kembali peristiwa di dalam aura kuno itu.
“Aku mendapatkan semuanya,” ujar Noah sambil berdiri untuk kembali ke permukaan. Dia memiliki pertemuan dengan Pendekar Pedang Suci yang tidak ingin dia lewatkan.