Chapter 624

Bab 624 – Apakah Anda Ingin Mencoba?
Bab 624 **Apakah Anda Ingin Mencoba?**
 
“Toko es krimnya buka besok! Apa aku bisa bekerja sendiri? Arrrgh! Aku gugup sekali! Tapi Bos sudah sangat mempercayaiku, aku harus bekerja dengan baik!”
 
Di sebuah gang remang-remang, suara Yabemiya bergema saat dia berjalan dengan ekspresi gugup namun penuh harap di wajahnya.
 
Gang ini adalah salah satu gang yang harus ia lewati dalam perjalanan pulang. Di malam hari, gang itu gelap gulita dan deretan rumah di kedua sisinya sangat berdekatan, sehingga sulit bagi cahaya bulan sekalipun untuk menerangi gang tersebut. Suasana di sini sangat sunyi, tetapi juga sedikit menyeramkan.
 
Suara langkah sepatu Yabemiya di tanah terdengar sangat jelas di lorong yang sunyi itu.
 
Tiba-tiba, terdengar suara gedebuk dari salah satu halaman di dekatnya. Terdengar seperti sesuatu jatuh ke tanah, membuat Yabemiya ketakutan.
 
“Suara apa itu?” Yabemiya berhenti di samping tembok dan mendengarkan dengan saksama, hanya untuk mendapati bahwa suara di halaman itu telah menghilang.
 
“Pasti tikus atau kucing yang menjatuhkan sesuatu.” Yabemiya mencoba menghibur dirinya sendiri saat ekspresinya sedikit mereda. Namun, dia mulai berjalan lebih cepat dari sebelumnya, dan tangannya tanpa sadar mengepal erat.
 
Suara langkah kakinya semakin sering terdengar. Dia sendirian di gang gelap ini, tetapi dia samar-samar merasakan ada sepasang mata yang mengawasinya dari dalam kegelapan.
 
Tiba-tiba ia teringat cerita-cerita tentang malam hari yang diceritakan oleh para karyawan wanita di restoran tempat ia bekerja sebelumnya.
 
Chaos City adalah kota dengan hukum dan ketertiban yang ketat, dengan Kuil Abu-abu dan kastil penguasa kota mengendalikan sebagian besar kota, tetapi ada banyak tempat di mana cahaya tidak bersinar. Di tempat-tempat itu, beberapa orang mesum yang gila mungkin bersembunyi, dan mereka sangat berbahaya bagi wanita yang bepergian sendirian.
 
Ia mulai mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Langkah kaki itu tidak terlalu keras, tetapi sangat cepat, seolah-olah ada sesuatu yang mengejarnya. Ia bahkan bisa mendengar napas terengah-engah pengejarnya, seolah-olah ia sedang diburu oleh binatang buas.
 
Yabemiya merasakan detak jantungnya meningkat seiring langkah kakinya yang semakin cepat. Ia sudah mulai berlari kecil dengan cepat. Gang biasa itu tiba-tiba terasa sangat panjang baginya, dan ia merasa seolah takkan pernah sampai ke ujungnya.
 
Tiba-tiba, terdengar suara dentuman teredam di belakangnya, dan langkah kaki yang mengejar pun terhenti.
 
Satu-satunya suara yang tersisa di gang itu hanyalah langkah kaki Yabemiya yang cepat dan napasnya yang terengah-engah.
 
Meskipun demikian, Yabemiya tidak memperlambat langkahnya. Dia mengambil tongkat kayu tebal yang tergeletak di gang; dengan tongkat itu di tangannya, rasa aman muncul di hatinya. Dia merasa seolah-olah tongkat di tangannya dapat menghancurkan kepala siapa pun yang berani mencoba menyentuhnya.
 
Seberkas cahaya bulan menyinari pintu masuk gang di dekatnya, seperti obor yang tiba-tiba menyala di malam hari. Mata Yabemiya berbinar melihat itu. Jika dia bisa keluar dari gang itu, maka dia akan aman.
 
Tiba-tiba, sesosok humanoid muncul di ujung gang, menghalangi pancaran cahaya bulan itu.
 
“Argh!” teriak Yabemiya sambil menutup matanya dan mengangkat tongkat kayunya tinggi-tinggi di atas kepalanya sebelum menghantamkannya ke sosok humanoid itu dengan sekuat tenaga.
 
“Retakan
 
Tongkat kayu itu patah saat terkena benturan.
 
Mata Yabemiya terpejam erat saat dia menggenggam erat separuh tongkat yang tersisa.
 
“Um… Apa kamu baik-baik saja?”
 
Terdengar suara yang bingung namun prihatin.
 
“Hah?” Yabemiya tergagap sebelum matanya terbuka lebar.
 
Orang yang berdiri di depannya bukanlah orang aneh telanjang, atau pria kekar seperti yang dia bayangkan. Sebaliknya, itu adalah Elizabeth yang mengenakan gaun putih.
 
Gaunnya yang berwarna putih keperakan berkilauan di bawah sinar bulan, dan meskipun cahaya tidak langsung menyinari wajahnya, kecantikannya tetap terlihat jelas bagi yang melihatnya. Saat ini, lengan kirinya terangkat di depannya, dan ada setengah batang kayu tergeletak di kakinya.
 
“Argh!”
 
Yabemiya berteriak lagi, kali ini meminta maaf sambil melemparkan separuh tongkatnya ke tanah. “Maafkan aku… Aku sangat menyesal… Aku tidak tahu itu kamu… Kupikir, kupikir…”
 
Elizabeth menatap Yabemiya dan menurunkan lengannya sebelum melangkah maju.
 
Aura dingin menyelimuti Yabemiya saat ia tanpa sadar melangkah mundur, membenturkan punggungnya ke dinding di belakangnya. Ia menatap Elizabeth dengan tatapan minta maaf dan takut, terlalu takut untuk mengatakan apa pun.
 
Elizabeth mengerutkan alisnya sebelum melangkah maju lagi, mengurangi jarak antara keduanya menjadi kurang dari setengah meter.
 
“Aku… aku…” Yabemiya mengepalkan tinju kecilnya dan mengangkatnya di depan dadanya. Dia tidak berani menatap mata Elizabeth; sikap angkuh yang dipancarkannya membuatnya sedikit takut. Pada saat yang sama, ada sesuatu tentang Elizabeth yang terasa anehnya menenangkan Yabemiya, dan membuatnya ingin mendekati Elizabeth.
 
Rasanya persis seperti saat perayaan festival bulan, ketika dia meletakkan kue bulan di tangan Elizabeth. Saat itu, dia merasakan aura yang familiar, sangat misterius namun menarik.
 
Elizabeth berhenti di depannya, dan berkata dengan dingin, “Lihat aku.”
 
Yabemiya menoleh ke arah Elizabeth dengan ekspresi malu-malu dan meminta maaf. Dia tidak menyangka Elizabeth tiba-tiba muncul dari kegelapan. “Maaf, itu bukan disengaja. Jika aku menyakitimu, kau bisa membalasnya jika mau.”
 
“Baiklah.” Elizabeth mengangguk sebelum menyentuh jari-jari Yabemiya dengan jarinya sendiri.
 
Yabemiya segera menarik tangannya seolah-olah dia tersengat listrik. Dia merasakan sensasi dingin di ujung jari tengahnya, serta rasa sakit samar seperti ditusuk jarum. Namun, itu hanya perasaan yang sangat samar, dan dia juga tidak berdarah dari ujung jari itu.
 
“Aku mengambil setetes darahmu.” Elizabeth menarik tangannya, dan sebuah botol kecil yang terbuat dari es muncul di telapak tangannya. Di dalamnya terdapat setetes darah berwarna emas.
 
“Mengapa kau menginginkan darahku?” Yabemiya menatap Elizabeth dengan ekspresi bingung. Pada pertemuan mereka sebelumnya, dia juga meminta setetes darahnya, tetapi ditolak oleh Sally. Siapa sangka dia akan muncul di sini, dan tujuannya adalah untuk mendapatkan setetes darahnya lagi?
 
“Aku punya alasan.” Elizabeth menyimpan botol kecil itu, tetapi tidak menjelaskan apa pun.
 
“Baiklah kalau begitu.” Yabemiya sedikit kecewa. Namun, saat menatap Elizabeth, ia tak bisa menahan rasa ingin tahunya dan bertanya, “Kau adalah Naga Es raksasa, jadi kau pasti tahu cara terbang, kan? Terbang di langit pasti terasa sangat mengagumkan, kan?”
 
Elizabeth menatap ekspresi Yabemiya yang penuh harap, dan terdiam sejenak sebelum bertanya, “Apakah kamu ingin mencobanya?”
 
“Hah?”
 
Yabemiya terkejut dengan respons itu, dan sebelum dia sempat bereaksi, Elizabeth sudah menerjang pinggangnya. Sebuah formasi mantra perak muncul di tanah, dan keduanya menghilang dari gang dalam sekejap mata.
 
Yabemiya memejamkan matanya, dan ketika dia membukanya kembali, dia sudah berada di udara di atas Kota Chaos. Kakinya benar-benar menggantung di udara, dan dia tiba-tiba mulai terjun bebas.
 
“Argh…”
 
Teriakan Yabemiya hanya sempat keluar setengah jalan dari mulutnya sebelum seekor Naga Es raksasa muncul di bawahnya. Dia mendarat tepat di punggung naga itu sebelum buru-buru meraih salah satu sisik naga tersebut, yang kemudian membawanya terbang tinggi ke langit.
 
Angin menderu melewati telinganya saat naga raksasa menerobos awan, menampakkan dunia baru bagi Yabemiya di mana bintang-bintang dan bulan sangat terang dan jernih.
 
Sementara itu, di gang kecil yang gelap itu, ada seorang pria setengah telanjang yang tertancap di dinding akibat duri es yang menembus dahinya. Bahkan dalam kematian, matanya masih terbuka lebar…

HomeSearchGenreHistory